Sari, Putri Permata dan Handayani, Buntar dan Rahmawati, Elfira Awalia dan Wahyuningsih, Sri Atun (2026) The Relationship Between Nutritional Status Based on Body Mass Index and Hemoglobin Levels as Determinants of Adolescent Girls' Health / Hubungan Status Gizi Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Dengan Kadar Hemoglobin Sebagai Determinan Kesehatan Remaja Putri. Journal of Pharmaceutical and Sciences. hal. 1891-1901.
Teks lengkap tidak tersedia dari repositori ini.Abstrak
Introduction: Anemia among adolescent girls remains a significant public health challenge with multifaceted consequences, including impaired growth, reduced academic performance, and compromised future reproductive health. Nutritional status, commonly assessed using Body Mass Index (BMI), is hypothesized to influence hemoglobin levels through various physiological mechanisms, yet the nature and strength of this relationship in specific populations require further investigation. Objective: This study aimed to analyze the relationship between Body Mass Index (BMI) and hemoglobin levels as a determinant of reproductive health among adolescent girls in an urban vocational high school setting. Methods: An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted involving 135 adolescent girls selected through total sampling technique. Nutritional status was assessed through anthropometric measurements (body weight and height) to calculate BMI, categorized using Asian-specific cutoffs. Hemoglobin levels were measured using a digital hemoglobinometer. Data analysis employed descriptive statistics for univariate analysis, Spearman correlation test to examine the association between BMI and hemoglobin levels, and Chi-square test to determine the relationship between BMI categories and anemia prevalence, with statistical significance set at p<0.05. Results: The mean age of participants was 17.04±0.76 years, with mean BMI of 23.60±5.90 kg/m² and mean hemoglobin level of 13.11±2.11 g/dL. The majority of participants had normal nutritional status (45.2%), while the prevalence of anemia was 28.9%. Spearman correlation analysis revealed a significant positive correlation between BMI and hemoglobin levels (r=0.285; p=0.001). Chi-square analysis demonstrated a significant association between BMI categories and anemia (χ²=31.65; p<0.001), with the highest anemia prevalence observed among underweight participants (67.9%). Multivariate logistic regression confirmed underweight nutritional status as an independent determinant of anemia (adjusted OR=8.42; 95% CI: 3.12–22.71; p<0.001) after controlling for age, grade, and iron supplementation adherence. Conclusion: This study demonstrates a significant association between BMI and hemoglobin levels among adolescent girls, with better nutritional status correlated with higher hemoglobin levels and lower anemia risk. The findings underscore the importance of integrating routine nutritional assessment and hemoglobin screening into school-based adolescent reproductive health programs. Targeted interventions addressing both underweight and overweight nutritional status, alongside iron supplementation and nutritional education, are essential for comprehensive anemia prevention and improved reproductive health outcomes in this vulnerable population.
Pendahuluan: Anemia pada remaja putri masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan dengan konsekuensi multifaset, termasuk gangguan pertumbuhan, penurunan prestasi akademik, dan terganggunya kesehatan reproduksi di masa depan. Status gizi yang umumnya diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) diduga berhubungan dengan kadar hemoglobin melalui berbagai mekanisme fisiologis, namun sifat dan kekuatan hubungan ini pada populasi tertentu memerlukan kajian lebih lanjut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kadar hemoglobin sebagai determinan kesehatan reproduksi pada remaja putri di lingkungan sekolah menengah kejuruan perkotaan. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional melibatkan 135 remaja putri yang dipilih melalui teknik total sampling. Status gizi dinilai melalui pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) untuk menghitung IMT, yang dikategorikan menggunakan titik potong spesifik Asia. Kadar hemoglobin diukur menggunakan hemoglobinometer digital. Analisis data menggunakan statistik deskriptif untuk analisis univariat, uji korelasi Spearman untuk menguji hubungan antara IMT dan kadar hemoglobin, serta uji Chi-square untuk menentukan hubungan antara kategori IMT dan prevalensi anemia, dengan tingkat kemaknaan statistik p<0,05. Hasil: Rerata usia partisipan adalah 17,04±0,76 tahun, dengan rerata IMT 23,60±5,90 kg/m² dan rerata kadar hemoglobin 13,11±2,11 g/dL. Mayoritas partisipan memiliki status gizi normal (45,2%), sementara prevalensi anemia mencapai 28,9%. Analisis korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara IMT dan kadar hemoglobin (r=0,285; p=0,001). Analisis Chi-square menunjukkan hubungan signifikan antara kategori IMT dan anemia (χ²=31,65; p<0,001), dengan prevalensi anemia tertinggi ditemukan pada partisipan dengan status gizi kurus (67,9%). Regresi logistik multivariat mengonfirmasi status gizi kurus sebagai determinan independen anemia (adjusted OR=8,42; 95% CI: 3,12–22,71; p<0,001) setelah dikontrol oleh usia, kelas, dan kepatuhan suplementasi zat besi. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan hubungan signifikan antara IMT dan kadar hemoglobin pada remaja putri, dengan status gizi yang lebih baik berkorelasi dengan kadar hemoglobin yang lebih tinggi dan risiko anemia yang lebih rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan penilaian status gizi rutin dan skrining hemoglobin ke dalam program kesehatan reproduksi remaja berbasis sekolah. Intervensi terarah yang mencakup perbaikan status gizi kurus maupun kelebihan berat badan, bersama dengan suplementasi zat besi dan edukasi gizi, sangat penting untuk pencegahan anemia komprehensif dan peningkatan hasil kesehatan reproduksi pada populasi rentan ini.
| Jenis koleksi: | Artikel jurnal |
|---|---|
| Informasi Tambahan: | OAI: oai:ojs3.journal-jps.com:article/1694 Source: https://journal-jps.com/new/index.php/jps/oai Rights: Copyright (c) 2026 Putri Permata Sari , Buntar Handayani , Elfira Awalia Rahmawati, Sri Atun Wahyuningsih ; https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 Bibliographic source: Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 2 (2026); 1891-1901; Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 2 (2026); 1891-1901; 2656-3088; 10.36490/journal-jps.com.v9i2 |
| Pengguna yang Menyetor: | Pengguna tanpa nama dengan email repo@utnd.ac.id |
| Tanggal Disetor: | 10 Oktober 2026 22:26 |
| Terakhir Dimodifikasi: | 10 Oktober 2026 22:26 |
| URI: | http://utndrepository.utnd.ac.id/id/eprint/1480 |

