Tama, Nela Puspa dan Almasdy, Dedy dan Sari, Yelly Oktavia (2026) Patterns of antihypertensive therapy and clinical outcomes in preeclampsia / Pola terapi antihipertensi dan luaran klinis pada preeklamsia. Journal of Pharmaceutical and Sciences. hal. 1735-1741.
Teks lengkap tidak tersedia dari repositori ini.Abstrak
Introduction: Preeclampsia remains a leading cause of maternal and perinatal morbidity and mortality worldwide, necessitating effective clinical management strategies to improve pregnancy outcomes. Despite established guidelines for antihypertensive therapy in pregnancy, data on real-world treatment patterns and their associated clinical outcomes in Indonesian healthcare settings remain limited. Objective: This study aimed to describe sociodemographic and clinical characteristics, antihypertensive therapy patterns, blood pressure changes, and maternal and neonatal outcomes among preeclampsia patients at a tertiary referral hospital in West Sumatra, Indonesia. Methods: A descriptive observational study was conducted involving 80 preeclampsia patients hospitalized at Dr. M. Djamil General Hospital, Padang, from January to December 2025. Data were collected retrospectively from medical records using total sampling based on predefined inclusion and exclusion criteria. The study evaluated sociodemographic characteristics, antihypertensive therapy regimens, blood pressure changes (pre- and post-therapy), and clinical outcomes including maternal symptom resolution and neonatal status. Data were analyzed using descriptive statistics and Wilcoxon signed-rank tests with SPSS version 25. Results: The majority of patients were aged 20–35 years (70%), housewives (72.5%), and had completed senior high school education (61.3%). Methyldopa was the most frequently used oral monotherapy (22.5%), while the combination of methyldopa and nifedipine was the predominant regimen (68.8%). Antihypertensive therapy significantly reduced systolic blood pressure from 168.94 ± 21.21 mmHg to 134.74 ± 13.32 mmHg and diastolic blood pressure from 104.84 ± 13.80 mmHg to 83.11 ± 7.11 mmHg (p < 0.001). Maternal symptoms including headache and blurred vision resolved completely following treatment. However, neonatal outcomes remained concerning, with 35.0% of newborns requiring NICU admission and 16.3% resulting in intrauterine fetal death. Fetal complications including oligohydramnios (12.5%) and absent end-diastolic flow (2.5%) indicated impaired uteroplacental perfusion. Conclusion: Antihypertensive therapy effectively reduced blood pressure and improved maternal symptoms in preeclampsia patients. However, the persistence of adverse neonatal outcomes despite maternal hemodynamic improvement underscores the need for comprehensive management approaches that include close maternal-fetal monitoring, early detection of placental insufficiency, and optimized referral systems. Further prospective studies with larger sample sizes and extended follow-up are warranted to evaluate long-term therapeutic outcomes.
Pendahuluan: Preeklamsia masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal di seluruh dunia, sehingga memerlukan strategi tata laksana klinis yang efektif untuk meningkatkan luaran kehamilan. Meskipun pedoman terapi antihipertensi pada kehamilan telah tersedia, data mengenai pola pengobatan di dunia nyata dan luaran klinis terkait di fasilitas kesehatan Indonesia masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik sosiodemografi dan klinis, pola terapi antihipertensi, perubahan tekanan darah, serta luaran maternal dan neonatal pada pasien preeklamsia di rumah sakit rujukan tersier di Sumatera Barat, Indonesia. Metode: Studi observasional deskriptif dilakukan pada 80 pasien preeklamsia yang dirawat di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari hingga Desember 2025. Data dikumpulkan secara retrospektif dari rekam medis menggunakan total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Penelitian mengevaluasi karakteristik sosiodemografi, regimen terapi antihipertensi, perubahan tekanan darah (sebelum dan sesudah terapi), serta luaran klinis meliputi resolusi gejala maternal dan status neonatal. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji Wilcoxon signed-rank dengan SPSS versi 25. Hasil: Mayoritas pasien berusia 20–35 tahun (70%), berstatus ibu rumah tangga (72,5%), dan berpendidikan terakhir SMA (61,3%). Metildopa merupakan monoterapi oral yang paling sering digunakan (22,5%), sedangkan kombinasi metildopa dan nifedipin menjadi regimen predominan (68,8%). Terapi antihipertensi secara signifikan menurunkan tekanan sistolik dari 168,94 ± 21,21 mmHg menjadi 134,74 ± 13,32 mmHg dan diastolik dari 104,84 ± 13,80 mmHg menjadi 83,11 ± 7,11 mmHg (p < 0,001). Gejala maternal seperti sakit kepala dan penglihatan kabur menghilang setelah pengobatan. Namun, luaran neonatal masih menunjukkan kondisi yang kurang baik, dengan 35,0% bayi memerlukan perawatan NICU dan 16,3% kehamilan berakhir dengan kematian janin intrauterin. Komplikasi fetal seperti oligohidramnion (12,5%) dan absent end-diastolic flow (2,5%) mengindikasikan gangguan perfusi uteroplasenta. Kesimpulan: Terapi antihipertensi efektif dalam menurunkan tekanan darah dan memperbaiki gejala maternal pada pasien preeklamsia. Namun, persistensi luaran neonatal yang buruk meskipun terjadi perbaikan hemodinamik maternal menekankan perlunya pendekatan tata laksana komprehensif yang mencakup pemantauan ketat maternal-fetal, deteksi dini insufisiensi plasenta, dan sistem rujukan yang dioptimalkan. Penelitian prospektif lebih lanjut dengan ukuran sampel lebih besar dan follow-up jangka panjang diperlukan untuk mengevaluasi luaran terapi jangka panjang.
| Jenis koleksi: | Artikel jurnal |
|---|---|
| Informasi Tambahan: | OAI: oai:ojs3.journal-jps.com:article/1565 Source: https://journal-jps.com/new/index.php/jps/oai Rights: Copyright (c) 2026 Nela Puspa Tama , Dedy Almasdy , Yelly Oktavia Sari ; https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 Bibliographic source: Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 2 (2026); 1735-1741; Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 2 (2026); 1735-1741; 2656-3088; 10.36490/journal-jps.com.v9i2 |
| Pengguna yang Menyetor: | Pengguna tanpa nama dengan email repo@utnd.ac.id |
| Tanggal Disetor: | 10 Oktober 2026 22:26 |
| Terakhir Dimodifikasi: | 10 Oktober 2026 22:26 |
| URI: | http://utndrepository.utnd.ac.id/id/eprint/1428 |

