Diana, Ina Kusuma dan Wiedyaningsih, Chairun dan Kurniawati, Fivy (2026) The Effect of Medication Adherence on HbA1c Control in Type 2 Diabetes Patients: A Systematic Review Based on Adherence Measurement Methods / Pengaruh Kepatuhan Minum Obat terhadap Pengendalian HbA1c pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2: Tinjauan Sistematis Berdasarkan Metode Pengukuran Kepatuhan. Journal of Pharmaceutical and Sciences. hal. 472-485.
Teks lengkap tidak tersedia dari repositori ini.Abstrak
Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a major public health concern in Asia, where rapid urbanization and lifestyle changes have contributed to a marked increase in disease prevalence. Poor medication adherence remains a major barrier to achieving optimal glycemic control, leading to an increased risk of complications and greater healthcare burden. This systematic review aimed to examine the relationship between medication adherence and glycated hemoglobin (HbA1c) levels among patients with T2DM, compare the strength of this association across different adherence measurement methods, and identify key factors influencing adherence and glycemic control in Asian populations. A literature search was conducted in PubMed, Europe PMC, Scopus, and ScienceDirect for cross-sectional studies published between January 2015 and April 2025. Eligible studies included adult patients with T2DM who reported medication adherence (e.g., MMAS-8, pill counts) and HbA1c outcomes. Data were synthesized narratively, and study quality was assessed using standardized appraisal tools. Of the 584 records screened, 14 studies met the inclusion criteria. Most studies demonstrated a significant inverse association between medication adherence and HbA1c levels, with stronger associations observed when objective or multidimensional adherence measures were used. Reported adherence levels varied substantially across studies, with the proportion of high adherence ranging from 3.7% to over 58%, depending on the measurement method. Mean HbA1c values ranged from 6.4% to 9.2%. Higher educational level, greater self-efficacy, and supportive healthcare environments were associated with better adherence. In contrast, psychological distress, regimen complexity, and comorbidities were linked to lower adherence and poorer glycemic control. Medication adherence is a critical determinant of glycemic control among patients with T2DM in Asia. The choice of adherence measurement method influences the observed association with HbA1c. Interventions should address psychosocial and clinical barriers and incorporate culturally adapted, multidimensional adherence assessment approaches.
Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di Asia, seiring dengan pesatnya urbanisasi dan perubahan gaya hidup yang menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit. Kepatuhan minum obat yang rendah masih menjadi hambatan utama dalam mencapai kontrol glikemik yang optimal, sehingga meningkatkan risiko komplikasi dan beban pelayanan kesehatan.Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kepatuhan minum obat dan kadar hemoglobin terglikasi (HbA1c) pada pasien DMT2, membandingkan kekuatan hubungan tersebut berdasarkan metode pengukuran kepatuhan, serta mengidentifikasi faktor-faktor utama yang memengaruhi kepatuhan dan kontrol glikemik di Asia. Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed, Europe PMC, Scopus, dan ScienceDirect untuk studi potong lintang yang dipublikasikan antara Januari 2015 hingga April 2025. Studi yang memenuhi kriteria melibatkan pasien DMT2 dewasa dengan pelaporan kepatuhan minum obat (misalnya MMAS-8, penghitungan pil) serta luaran HbA1c. Data disintesis secara naratif, dan kualitas studi dinilai menggunakan instrumen penilaian terstandar. Dari 584 artikel yang disaring, sebanyak 14 studi memenuhi kriteria inklusi. Sebagian besar studi menunjukkan hubungan terbalik yang signifikan antara kepatuhan minum obat dan kadar HbA1c, dengan hubungan yang lebih kuat pada penggunaan metode pengukuran kepatuhan yang objektif atau multidimensional. Tingkat kepatuhan berkisar antara 12% hingga 42%, sedangkan rerata HbA1c berkisar antara 6,4% hingga 9,2%. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi, efikasi diri yang baik, serta lingkungan pelayanan kesehatan yang suportif berhubungan dengan kepatuhan yang lebih baik. Sebaliknya, distres psikologis, kompleksitas regimen, dan komorbiditas berhubungan dengan kepatuhan yang rendah dan kontrol glikemik yang buruk. Kepatuhan minum obat merupakan determinan penting dalam pengendalian glikemik pada pasien DMT2 di Asia. Pemilihan metode pengukuran kepatuhan memengaruhi kekuatan hubungan dengan HbA1c. Intervensi perlu menargetkan hambatan psikososial dan klinis serta menggunakan pendekatan penilaian kepatuhan yang multidimensional dan sesuai budaya.
| Jenis koleksi: | Artikel jurnal |
|---|---|
| Informasi Tambahan: | OAI: oai:ojs3.journal-jps.com:article/1415 Source: https://journal-jps.com/new/index.php/jps/oai Rights: Copyright (c) 2026 Ina Kusuma Diana, Chairun Wiedyaningsih , Fivy Kurniawati ; https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 Bibliographic source: Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 1 (2026); 472-485; Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 1 (2026); 472-485; 2656-3088; 10.36490/journal-jps.com.v9i1 |
| Pengguna yang Menyetor: | Pengguna tanpa nama dengan email repo@utnd.ac.id |
| Tanggal Disetor: | 10 Oktober 2026 22:27 |
| Terakhir Dimodifikasi: | 10 Oktober 2026 22:27 |
| URI: | http://utndrepository.utnd.ac.id/id/eprint/1357 |

