Suryani, Monica dan Safitri, Alfi dan Marbun, Eva Diansari dan Suryani, Ade Irma dan Zura, Cut Alvida (2026) Article Review: Safety and Toxicity Testing of Herbal Medicines in the Development of Jamu, Standardized Herbal Medicines, and Phytopharmaceuticals / Artikel Review: Uji Keamanan dan Toksisitas Obat Herbal dalam Pengembangan Jamu, OHT, dan Fitofarmaka. Journal of Pharmaceutical and Sciences. hal. 567-574.
Teks lengkap tidak tersedia dari repositori ini.Abstrak
Background: Safety and toxicity testing are essential stages in the development of herbal medicines to ensure therapeutic efficacy without causing adverse effects. In Indonesia, herbal products are classified into traditional herbal medicines (jamu), Standardized Herbal Medicines, and phytopharmaceuticals, each requiring different levels of scientific evidence for safety and efficacy. Objective: This study aims to review the results of safety and toxicity testing of herbal medicines in the development of jamu, Standardized Herbal Medicines, and phytopharmaceuticals in Indonesia over the last five years (2020–2025). Methods: This study employed a descriptive, qualitative literature review. Scientific articles were systematically retrieved from the Garuda, Neliti, Sinta, and Google Scholar databases using relevant keywords related to herbal medicine safety and toxicity testing. A total of twelve peer-reviewed research articles published between 2020 and 2025 met the inclusion criteria. The reviewed studies involved in vivo, in vitro, and in silico testing methods, with toxicity parameters including LD₅₀, LC₅₀, biochemical markers, and histopathological changes. Results: The findings indicate that in vivo testing is the most frequently applied method and generally demonstrates a high safety profile for most herbal preparations. Jamu products are considered safe based on empirical use and standardized raw materials. Standardized Herbal Medicines demonstrate safety through acute and subchronic toxicity evaluations. At the same time, phytopharmaceuticals exhibit the highest level of safety through comprehensive testing using combined in vivo, in vitro, and in silico approaches. Most herbal ingredients fall into the non-toxic to mildly toxic category at high doses. Conclusion: Overall, the reviewed evidence suggests that Indonesian herbal medicines, including jamu, Standardized Herbal Medicines, and phytopharmaceuticals, are generally safe when used appropriately. Strengthening multidisciplinary toxicological approaches and implementing pharmacovigilance principles are essential to ensure long-term safety and support the development of evidence-based national herbal medicines.
Latar Belakang: Pengujian keamanan dan toksisitas merupakan tahapan penting dalam pengembangan obat herbal untuk menjamin manfaat terapeutik tanpa menimbulkan efek merugikan. Di Indonesia, obat herbal diklasifikasikan menjadi jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka, yang masing-masing memiliki tingkat pembuktian ilmiah yang berbeda terkait keamanan dan khasiat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hasil uji keamanan dan toksisitas obat herbal dalam pengembangan jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka di Indonesia selama lima tahun terakhir (2020–2025). Metode: Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur deskriptif-kualitatif. Penelusuran artikel ilmiah dilakukan secara sistematis melalui basis data Garuda, Neliti, Sinta, dan Google Scholar menggunakan kata kunci yang relevan. Sebanyak dua belas artikel penelitian yang dipublikasikan pada periode 2020–2025 memenuhi kriteria inklusi. Artikel yang direview mencakup metode uji in vivo, in vitro, dan in silico, dengan parameter toksisitas berupa LD₅₀, LC₅₀, parameter biokimia, serta perubahan histopatologi organ. Hasil: Hasil kajian menunjukkan bahwa metode in vivo merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan dan umumnya menunjukkan profil keamanan yang tinggi pada sebagian besar sediaan herbal. Produk jamu dinyatakan aman berdasarkan bukti empiris dan standardisasi bahan baku. Obat Herbal Terstandar (OHT) menunjukkan keamanan melalui uji toksisitas akut dan subkronis, sedangkan fitofarmaka memiliki tingkat keamanan terbaik karena telah diuji secara komprehensif menggunakan pendekatan in vivo, in vitro, dan in silico. Mayoritas bahan herbal berada pada kategori tidak toksik hingga toksik ringan pada dosis tinggi. Kesimpulan: Secara keseluruhan, obat herbal di Indonesia, baik jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), maupun fitofarmaka, memiliki tingkat keamanan yang tinggi apabila digunakan sesuai dosis yang dianjurkan. Penguatan metode toksikologi multidisipliner serta penerapan prinsip farmakovigilans sangat diperlukan untuk menjamin keamanan jangka panjang dan mendukung pengembangan obat herbal nasional berbasis bukti ilmiah.
| Jenis koleksi: | Artikel jurnal |
|---|---|
| Informasi Tambahan: | OAI: oai:ojs3.journal-jps.com:article/1393 Source: https://journal-jps.com/new/index.php/jps/oai Rights: Copyright (c) 2026 Monica Suryani , Alfi Safitri , Eva Diansari Marbun , Ade Irma Suryani , Cut Alvida Zura ; https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 Bibliographic source: Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 1 (2026); 567-574; Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 1 (2026); 567-574; 2656-3088; 10.36490/journal-jps.com.v9i1 |
| Pengguna yang Menyetor: | Pengguna tanpa nama dengan email repo@utnd.ac.id |
| Tanggal Disetor: | 10 Oktober 2026 22:27 |
| Terakhir Dimodifikasi: | 10 Oktober 2026 22:27 |
| URI: | http://utndrepository.utnd.ac.id/id/eprint/1351 |

