UNIVERSITAS TJUT NYAK DHIENRuang pengetahuan, terbuka untuk semua

REPOSITORY INSTITUSI

Guideline-Directed Medical Therapy Completeness and Its Impact on Therapeutic Outcomes in Unstable Angina Pectoris: A Tertiary Hospital Study in Indonesia / Kelengkapan Terapi Medis Sesuai Pedoman dan Dampaknya terhadap Luaran Terapi pada Pasien Angina Pektoris Tidak Stabil: Penelitian di Rumah Sakit Rujukan Tersier di Indonesia

Saufi, Muhammad Rifki dan Cholisoh, Zakky (2026) Guideline-Directed Medical Therapy Completeness and Its Impact on Therapeutic Outcomes in Unstable Angina Pectoris: A Tertiary Hospital Study in Indonesia / Kelengkapan Terapi Medis Sesuai Pedoman dan Dampaknya terhadap Luaran Terapi pada Pasien Angina Pektoris Tidak Stabil: Penelitian di Rumah Sakit Rujukan Tersier di Indonesia. Journal of Pharmaceutical and Sciences. hal. 279-289.

Teks lengkap tidak tersedia dari repositori ini.
URL resmi: https://journal-jps.com/new/index.php/jps/article/...

Abstrak

Unstable angina pectoris (UAP) is a major cause of cardiovascular hospitalization and requires complex inpatient pharmacological management. Variability in the completeness of core guideline-recommended acute pharmacotherapy may influence inpatient therapeutic outcomes, including length of hospital stay (LOS). This study aimed to evaluate the completeness of core guideline-recommended pharmacotherapy and its association with LOS among hospitalized patients with unstable angina pectoris at a tertiary referral hospital in Indonesia. A descriptive observational study with a retrospective design was conducted using secondary data from medical records. Of 214 hospitalized patients screened, 144 adult patients diagnosed with unstable angina pectoris met the inclusion criteria. Data collected included demographic characteristics, smoking status, comorbidities, LOS, and pharmacological therapy administered during hospitalization. Pharmacotherapy completeness was operationally defined based on the documented use of three core disease-modifying drug classes recommended for the acute management of unstable angina pectoris: antiplatelet therapy (single or dual), statin therapy, and beta-blocker therapy based on core acute-phase recommendations in the ESC 2023 and AHA/ACC 2023 guidelines, at any time during the inpatient stay. Descriptive statistics were used to summarize patient characteristics and medication use, while bivariate analysis was performed to assess the association between pharmacotherapy completeness and LOS. Most patients were male (62.5%) and aged 40–59 years (47.9%) or ≥60 years (43.1%), with a median LOS of 4 days (interquartile range 3–5). The most frequently prescribed drug classes were statins (92.4%), beta-blockers (91.7%), aspirin (88.2%), and angiotensin-converting enzyme inhibitors or angiotensin receptor blockers (86.1%). Dual antiplatelet therapy was administered in 66.7% of patients, and anticoagulants in 28.5%. Bivariate analysis showed no statistically significant association between pharmacotherapy completeness and length of hospital stay (p = 0.642). In conclusion, hospitalized patients with unstable angina pectoris generally received pharmacological therapy aligned with core guideline-recommended acute-phase management. However, the absence of a significant association between pharmacotherapy completeness and LOS suggests that LOS is a multifactorial outcome influenced by clinical and organizational factors beyond pharmacological management. These findings highlight the importance of comprehensive inpatient care and structured medication review, including the role of clinical pharmacists, in optimizing treatment for patients with UAP.

Angina pektoris tidak stabil (unstable angina pectoris/UAP) merupakan salah satu penyebab utama rawat inap kardiovaskular dan memerlukan penatalaksanaan farmakologis rawat inap yang kompleks. Variasi dalam kelengkapan farmakoterapi inti fase akut berbasis pedoman dapat memengaruhi luaran terapi rawat inap, termasuk lama rawat inap (length of stay/LOS). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelengkapan farmakoterapi inti berbasis pedoman serta hubungannya dengan LOS pada pasien UAP yang dirawat inap di rumah sakit rujukan tersier di Indonesia. Penelitian observasional deskriptif dengan desain retrospektif dilakukan menggunakan data sekunder dari rekam medis. Dari 214 pasien rawat inap yang disaring, sebanyak 144 pasien dewasa dengan diagnosis UAP memenuhi kriteria inklusi. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografis, status merokok, komorbiditas, LOS, serta terapi farmakologis yang diberikan selama perawatan. Kelengkapan farmakoterapi didefinisikan secara operasional berdasarkan dokumentasi penggunaan tiga kelas obat inti yang memodifikasi penyakit dan direkomendasikan untuk tata laksana fase akut UAP, yaitu terapi antiplatelet (tunggal atau ganda), terapi statin, dan terapi beta-blocker, berdasarkan rekomendasi inti fase akut dalam pedoman ESC 2023 dan AHA/ACC 2023, yang diberikan pada waktu tertentu selama perawatan inap. Analisis deskriptif digunakan untuk merangkum karakteristik pasien dan penggunaan obat, sedangkan analisis bivariat dilakukan untuk menilai hubungan antara kelengkapan farmakoterapi dan LOS. Sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki (62,5%) dan berada pada kelompok usia 40–59 tahun (47,9%) atau ≥60 tahun (43,1%), dengan median LOS selama 4 hari (rentang interkuartil 3–5). Kelas obat yang paling sering diresepkan adalah statin (92,4%), beta-blocker (91,7%), aspirin (88,2%), serta ACE inhibitor atau ARB (86,1%). Terapi antiplatelet ganda diberikan pada 66,7% pasien, sedangkan antikoagulan digunakan pada 28,5% pasien. Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara kelengkapan farmakoterapi dan lama rawat inap (p = 0,642). Sebagai kesimpulan, pasien UAP yang dirawat inap umumnya menerima terapi farmakologis yang selaras dengan rekomendasi inti tata laksana fase akut berbasis pedoman. Namun, tidak ditemukannya hubungan yang bermakna antara kelengkapan farmakoterapi dan LOS menunjukkan bahwa LOS merupakan luaran yang bersifat multifaktorial dan dipengaruhi oleh faktor klinis serta organisasi pelayanan kesehatan di luar manajemen farmakologis semata. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan perawatan rawat inap yang komprehensif serta telaah obat yang terstruktur, termasuk peran farmasis klinik, dalam mengoptimalkan terapi pada pasien UAP.

Jenis koleksi: Artikel jurnal
Informasi Tambahan: OAI: oai:ojs3.journal-jps.com:article/1357 Source: https://journal-jps.com/new/index.php/jps/oai Rights: Copyright (c) 2026 Muhammad Rifki Saufi, Zakky Cholisoh; https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 Bibliographic source: Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 1 (2026); 279-289; Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 1 (2026); 279-289; 2656-3088; 10.36490/journal-jps.com.v9i1
Pengguna yang Menyetor: Pengguna tanpa nama dengan email repo@utnd.ac.id
Tanggal Disetor: 10 Oktober 2026 22:27
Terakhir Dimodifikasi: 10 Oktober 2026 22:27
URI: http://utndrepository.utnd.ac.id/id/eprint/1336

Tindakan (diperlukan login)

Lihat Barang
Lihat Barang