Lismawan, Gita Novianti dan Septiani, Dia dan Ramadhani, Biandra Cinta dan Ramadhany, Arifa Salsabilla (2026) Comparison of the Immunomodulatory Activity of Red Ginger (Zingiber officinale var. rubrum) Extract and Turmeric (Curcuma longa L.) on Immune Responses in Experimental Animals: A Literature Review / Perbandingan Aktivitas ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) dan Kunyit (Curcuma longa L) Terhadap Respon Imun Pada Hewan Uji: Tinjauan Literatur. Journal of Pharmaceutical and Sciences. hal. 575-587.
Teks lengkap tidak tersedia dari repositori ini.Abstrak
The immune system plays a crucial role in protecting the body against various pathogenic agents; therefore, efforts to enhance immune function through natural approaches are essential. This study aims to systematically compare the immunomodulatory effects of red ginger (Zingiber officinale var. rubrum) and turmeric (Curcuma longa L.) based on a systematic literature review of preclinical experimental studies. Literature was systematically collected from two electronic databases, PubMed and Google Scholar, covering publications from 2010 to 2025, using keywords related to Zingiber officinale var. rubrum, “red ginger”, Curcuma longa, “turmeric”, “immune”, “immunity”, “cytokine”, “immune response”, and “immunomodulatory effect”. Of the 260 articles identified, only 10 studies met the inclusion criteria and were analyzed further. Based on reported immunological response patterns, red ginger predominantly influences innate immune parameters measurable during the early phase of immune activation, including increased macrophage phagocytic activity, enhanced production of proinflammatory cytokines (IL-1β and IFN-γ), and activation of natural killer (NK) cells. In contrast, turmeric demonstrates significant effects on adaptive immune parameters that are generally evaluated over longer intervention periods, mediated by curcumin through inhibition of the NF-κB signaling pathway, upregulation of anti-inflammatory cytokines (IL-10), and enhancement of regulatory T cell (Treg) function to maintain immunological homeostasis. Both red ginger and turmeric exhibit potential as natural immunomodulatory agents that support immune defense; however, their mechanisms and magnitude of effects differ. Red ginger tends to elicit more rapid immune responses, whereas turmeric exerts more sustained regulatory effects. In conclusion, the utilization of red ginger and turmeric may serve as preventive and therapeutic phytotherapeutic alternatives to enhance immune function. Nevertheless, as the available evidence is largely derived from animal experimental studies, further well-designed pharmacokinetic studies and controlled clinical trials are required to confirm efficacy, safety, and optimal formulations in humans.
Sistem imun berperan penting dalam mempertahankan tubuh terhadap berbagai agen patogen, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan daya tahan tubuh secara alami. Studi ini bertujuan untuk secara sistematis membandingkan efek imunomodulator dari jahe merah ( Zingiber officinale var. rubrum ) dan kunyit ( Curcuma longa L.) berdasarkan tinjauan literatur sistematis dari studi eksperimental praklinis. Literatur dikumpulkan secara sistematis dari dua basis data elektronik, PubMed dan Google Scholar, yang mencakup publikasi dari tahun 2010 hingga 2025, menggunakan kata kunci terkait Zingiber officinale var. rubrum”, “red ginger”, “Curcuma longa”, “turmeric”, “immune”, “immunity”, “cytokine”, “immune respons; dan Immunomodulatory effect. Dari 260 artikel yang ditemukan, hanya 10 penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Berdasarkan pola respons imunologis yang dilaporkan, jahe merah cenderung terutama memengaruhi parameter imun bawaan yang dapat diukur selama fase awal aktivasi imun, melalui peningkatan aktivitas fagositosis makrofag, produksi sitokin proinflamasi (IL-1β, IFN-γ), serta aktivasi sel NK. sedangkan kunyit menunjukkan efek signifikan pada parameter imun adaptif yang umumnya dievaluasi selama periode intervensi yang lebih lama. melalui kandungan kurkumin yang menekan jalur NF-κB, meningkatkan sitokin antiinflamasi (IL-10), serta memperkuat fungsi sel T regulator (Treg) untuk menjaga keseimbangan imunologis. Keduanya menunjukkan potensi sebagai imunomodulator alami yang mendukung daya tahan tubuh, namun mekanisme dan kekuatan efeknya berbeda: jahe merah lebih cepat dalam merespons infeksi, sedangkan kunyit memberikan efek regulatif yang lebih bertahan lama. Kesimpulannya, pemanfaatan jahe merah dan kunyit dapat menjadi alternatif fitoterapi preventif dan terapeutik untuk meningkatkan imunitas, Namun, karena bukti yang tersedia sebagian besar berasal dari studi hewan percobaan, studi farmakokinetik yang dirancang dengan baik dan uji klinis terkontrol lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi kemanjuran, keamanan, dan formulasi optimal pada manusia.
| Jenis koleksi: | Artikel jurnal |
|---|---|
| Informasi Tambahan: | OAI: oai:ojs3.journal-jps.com:article/1194 Source: https://journal-jps.com/new/index.php/jps/oai Rights: Copyright (c) 2026 Gita Novianti Lismawan, Dia Septiani, Biandra Cinta Ramadhani, Arifa Salsabilla Ramadhany; https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 Bibliographic source: Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 1 (2026); 575-587; Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 9 Nomor 1 (2026); 575-587; 2656-3088; 10.36490/journal-jps.com.v9i1 |
| Pengguna yang Menyetor: | Pengguna tanpa nama dengan email repo@utnd.ac.id |
| Tanggal Disetor: | 10 Oktober 2026 22:27 |
| Terakhir Dimodifikasi: | 10 Oktober 2026 22:27 |
| URI: | http://utndrepository.utnd.ac.id/id/eprint/1270 |

