Hasibuan, Nabila Hasim dan Ridwanto, Ridwanto dan Nasution, Haris Munandar dan Rani, Zulmai (2025) Antifungal Activity of Chitosan from Bamboo Shells (Solen corneus) in the Production of Hydrogel Against Trichophyton mentagrophytes / Aktivitas Antijamur Kitosan Dari Cangkang Kerang Bambu (Solen corneus) Pada Pembuatan Hidrogel Terhadap Trichophyton mentagrophytes. Journal of Pharmaceutical and Sciences. hal. 1654-1673.
Teks lengkap tidak tersedia dari repositori ini.Abstrak
Background: Hydrogels are topical preparations applied to the skin surface. Chitosan, a compound derived from the deacetylation of chitin, has various benefits, including antifungal activity. Utilizing waste from bamboo clam shells (Solen courneus) collected in Belawan waters as a source of chitosan could provide a sustainable solution for developing antifungal hydrogel formulations. Objective: This study aimed to produce chitosan from bamboo clam shells, formulate it into a stable hydrogel, and evaluate its antifungal activity against Trichophyton mentagrophytes. Methods: This experimental study involved isolating chitosan through deproteinization, demineralization, depigmentation, and deacetylation steps. The resulting chitosan was characterized by moisture content, ash content, yield, solubility, and functional group identification using FTIR spectroscopy. Subsequently, chitosan was formulated into four hydrogel variations (0%, 2%, 4%, and 6%). The hydrogel formulations were evaluated for organoleptic properties, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, adhesiveness, and antifungal activity. Results: The produced chitosan exhibited functional groups similar to standard chitosan and a degree of deacetylation of 77.5%. Hydrogel evaluation over three weeks showed good stability, with pH values of 4–6.5, spreadability of 5–7 cm, adhesiveness greater than 1 second, and viscosity ranging from 3,000–50,000 cps, all meeting the required standards. The antifungal test demonstrated that the 6% chitosan hydrogel had the highest inhibition zone (11.5 mm) against Trichophyton mentagrophytes. Conclusion: Chitosan derived from bamboo clam shells was successfully formulated into a stable hydrogel with effective antifungal activity. The 6% concentration exhibited the strongest antifungal effect, indicating its potential as a topical preparation for treating skin fungal infections.
Latar Belakang: Hidrogel merupakan sediaan topikal yang diaplikasikan pada permukaan kulit. Kitosan, senyawa yang berasal dari deasetilasi kitin, memiliki berbagai manfaat, salah satunya sebagai antijamur. Pemanfaatan limbah cangkang kerang bambu (Solen courneus) dari perairan Belawan sebagai sumber kitosan dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam pengembangan sediaan hidrogel antijamur. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan kitosan dari cangkang kerang bambu, memformulasikannya ke dalam sediaan hidrogel yang stabil, serta menguji aktivitas antijamurnya terhadap Trichophyton mentagrophytes. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, meliputi isolasi kitosan melalui tahapan deproteinasi, demineralisasi, depigmentasi, dan deasetilasi. Kitosan yang dihasilkan dikarakterisasi melalui analisis kadar air, kadar abu, rendemen, kelarutan, dan spektrofotometer FTIR untuk identifikasi gugus fungsi. Selanjutnya, kitosan diformulasikan ke dalam empat variasi hidrogel (0%, 2%, 4%, dan 6%). Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, serta uji aktivitas antijamur. Hasil: Kitosan yang dihasilkan memiliki kemiripan gugus fungsi dengan kitosan baku dan derajat deasetilasi sebesar 77,5%. Hasil evaluasi hidrogel selama tiga minggu menunjukkan stabilitas yang baik, dengan pH (4-6,5), daya sebar (5-7 cm), daya lekat (>1 detik), dan viskositas (3.000-50.000 cps) yang memenuhi persyaratan. Uji antijamur menunjukkan bahwa hidrogel kitosan 6% memiliki daya hambat tertinggi (11,5 mm) terhadap Trichophyton mentagrophytes. Kesimpulan: Kitosan dari cangkang kerang bambu berhasil diformulasikan menjadi hidrogel yang stabil dan efektif sebagai antijamur. Konsentrasi 6% menunjukkan aktivitas antijamur terbaik, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai sediaan topikal untuk infeksi jamur kulit.
| Jenis koleksi: | Artikel jurnal |
|---|---|
| Informasi Tambahan: | OAI: oai:ojs3.journal-jps.com:article/906 Source: https://journal-jps.com/new/index.php/jps/oai Rights: Copyright (c) 2025 Nabila Hasim Hasibuan, Ridwanto, Haris Munandar Nasution , Zulmai Rani; https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 Bibliographic source: Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 8 Nomor 3 (2025); 1654-1673; Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 8 Nomor 3 (2025); 1654-1673; 2656-3088; 10.36490/journal-jps.com.v8i3 |
| Pengguna yang Menyetor: | Pengguna tanpa nama dengan email repo@utnd.ac.id |
| Tanggal Disetor: | 10 Oktober 2026 22:27 |
| Terakhir Dimodifikasi: | 10 Oktober 2026 22:27 |
| URI: | http://utndrepository.utnd.ac.id/id/eprint/1110 |

