Misworo, Misworo dan Kusuma, Ikhwan Yuda dan Kurniasih, Khamdiyah Indah dan Nurkholis, Fiqih dan Fauziah, Fauziah (2025) Antibiotic Use and Prescribing Patterns for Respiratory Tract Infections (ICD-10: J00-J99) in Indonesia During the COVID-19 Pandemic / Tingkat Penggunaan Antibiotik dan Pola Peresepannya Pada Infeksi Saluran Pernapasan (ICD-10: J00-J99) di Indonesia Selama Pandemi COVID-19. Journal of Pharmaceutical and Sciences. hal. 837-846.
Teks lengkap tidak tersedia dari repositori ini.Abstrak
Introduction: Respiratory tract infections (RTIs) contribute substantially to global antibiotic consumption, raising concerns about antimicrobial resistance (AMR). This study aimed to analyze antibiotic prescribing patterns for respiratory disorders in an Indonesian teaching hospital during the COVID-19 pandemic. Methods: This retrospective, cross-sectional study examined systemic antibiotic prescriptions based on the Anatomical Therapeutic Classification (ATC: J01) for respiratory diseases (ICD-10: J00-J99) at Cilacap Government Teaching Hospital between January and December 2021. Data were extracted from electronic medical records (e-MR), including patient demographics (i.e. age and sex), ICD codes and name of antibiotics. We analyzed WHO AWaRe classifications, administration routes, and seasonal patterns based on patient’s entry and antibiotic use. Results: The study included 2,395 patients with antibiotic prescriptions for respiratory disorders. The Watch group antibiotics accounted for 85.6% of prescriptions, with the highest use among adults (86.2%). Parenteral administration (71.5%) was more common than oral administration (28.5%). Pneumonia (38.2%) and chronic obstructive pulmonary disease (27%) were the most common indications. Antibiotic use peaked in December (n=529) and was lowest in July (n=84). Ceftriaxone (n=838), azithromycin (n=270), cefixime (n=262), levofloxacin (n=216), and meropenem (n=56) were among the top prescribed antibiotics. Conclusion: The study highlights the predominant use of broad-spectrum and parenteral antibiotics for respiratory disorders, raising concerns about AMR. Factors such as seasonality, disease patterns, and diagnostic challenges may have influenced prescribing practices. Implementing antimicrobial stewardship programs, promoting evidence-based guidelines, and addressing modifiable risk factors are crucial to combat AMR and optimize patient outcomes during and beyond the COVID-19 pandemic.
Pendahuluan: Infeksi saluran pernapasan (ISPA) berkontribusi signifikan terhadap konsumsi antibiotik global, menimbulkan kekhawatiran akan resistensi antimikroba (AMR). Studi ini bertujuan untuk menganalisis pola peresepan antibiotik untuk gangguan pernapasan di sebuah rumah sakit pendidikan di Indonesia selama pandemi COVID-19. Metode: Studi retrospektif dan cross-sectional ini mengkaji resep antibiotik sistemik berdasarkan Klasifikasi Anatomi Terapeutik (ATC: J01) untuk penyakit pernapasan (ICD-10: J00-J99) di Rumah Sakit Pendidikan Pemerintah Cilacap antara Januari dan Desember 2021. Data diambil dari rekam medis elektronik (e-MR), mencakup demografi pasien (usia dan jenis kelamin), kode ICD, dan nama antibiotik. Kami menganalisis klasifikasi WHO AWaRe, rute pemberian, dan pola musiman berdasarkan waktu masuk pasien dan penggunaan antibiotik. Hasil: Studi ini melibatkan 2.395 pasien dengan resep antibiotik untuk gangguan pernapasan. Antibiotik golongan Watch mendominasi (85,6%), dengan penggunaan tertinggi pada dewasa (86,2%). Pemberian parenteral (71,5%) lebih umum dibandingkan oral (28,5%). Pneumonia (38,2%) dan penyakit paru obstruktif kronis (27%) menjadi indikasi paling umum. Penggunaan antibiotik mencapai puncak pada Desember (n=529) dan terendah pada Juli (n=84). Ceftriaxone (n=838), azitromisin (n=270), sefiksim (n=262), levofloksasin (n=216), dan meropenem (n=56) termasuk antibiotik yang paling sering diresepkan. Kesimpulan: Studi ini mengungkap dominasi penggunaan antibiotik spektrum luas dan parenteral untuk gangguan pernapasan, memperkuat kekhawatiran akan AMR. Faktor seperti musim, pola penyakit, dan tantangan diagnostik mungkin memengaruhi praktik peresepan. Penerapan program pengendalian antimikroba, promosi pedoman berbasis bukti, dan penanganan faktor risiko yang dapat dimodifikasi sangat penting untuk memerangi AMR dan mengoptimalkan hasil perawatan pasien selama dan pasca pandemi COVID-19.
| Jenis koleksi: | Artikel jurnal |
|---|---|
| Informasi Tambahan: | OAI: oai:ojs3.journal-jps.com:article/849 Source: https://journal-jps.com/new/index.php/jps/oai Rights: Copyright (c) 2025 Misworo Misworo, Ikhwan Yuda Kusuma, Khamdiyah Indah Kurniasih, Fiqih Nurkholis, Fauziah Fauziah ; https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 Bibliographic source: Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 8 Nomor 2 (2025); 837-846; Journal of Pharmaceutical and Sciences; JPS Volume 8 Nomor 2 (2025); 837-846; 2656-3088; 10.36490/journal-jps.com.v8i2 |
| Pengguna yang Menyetor: | Pengguna tanpa nama dengan email repo@utnd.ac.id |
| Tanggal Disetor: | 10 Oktober 2026 22:27 |
| Terakhir Dimodifikasi: | 10 Oktober 2026 22:27 |
| URI: | http://utndrepository.utnd.ac.id/id/eprint/1075 |

